Kitab Sulam Nurul Muttashil, Epilog: Pulang Sebelum Mati

Penutup - Sulam Nurul Muttashil

EPILOG: PULANG SEBELUM MATI

Intisari Perjalanan Cahaya
"Semua yang berasal dari Cahaya, akan pulang kembali ke Asal Cahaya."
Sulam Nurul Muttashil dimulai dari pertanyaan sederhana: bagaimana ruh manusia kembali kepada Allah? Jawabannya tidak ditemukan dalam teori, tapi dalam pengalaman bertahap yang digambarkan sebagai perjalanan dari Rahim ke Rahim.
Tujuh bab pertama menguraikan peta perjalanan ini. Empat bab terakhir memberikan landasan teologis dan praktis. Namun semua penjelasan ini hanya menjadi hidup jika diamalkan. Sholawat Nurul Muttashil adalah wasilah yang menghubungkan pembaca dengan sistem yang digambarkan dalam kitab.
Inti dari amalan ini adalah penyadaran eksistensi seperti janin dalam rahim: tidak perlu tahu wajah ibunya, tidak perlu memahami mekanisme pertumbuhan, hanya perlu menerima dan merasakan nikmat pengasuhan, perlindungan, dan pemeliharaan.
Penyusun tidak memiliki ajaran ini. Nama Zainal Ibnu Zahr adalah tanda, bukan klaim. Cahaya tidak bisa dimiliki, hanya bisa disambung. Wushul adalah kepulangan, bukan prestasi.
❖ ❖ ❖

TENTANG PENYUSUN

Khādim an-Nūr
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Zainal Ibnu Zahr bukanlah nama lahir. Ia digunakan sebagai penanda adab dan amanah. Penyusun bukanlah ulama, mursyid, atau guru suci. Ia hanyalah seorang muallif (penyusun) dan khādim (pelayan) yang diberi kepercayaan untuk menuliskan apa yang mengalir dalam pengalaman batin dan keheningan.
Karya ini disusun dengan metode tabula rasa—mengosongkan diri dari pemahaman terdahulu untuk membiarkan kebenaran berbicara langsung dari sumbernya. Segala yang tertulis berasal dari Allah, melalui wasilah Nur Muhammad ﷺ dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Penyusun hanyalah penjaga gerbang adab, bukan pemilik taman cahaya ini.
"Aku bukan pemilik taman ini. Aku hanya mengetahui letak gerbangnya."
— Zainal Ibnu Zahr
Khadim An Nur (Pelayan Putra Putri Cahaya Pengamal Nurul Muttashil)
di bawah rindangnya Cahaya Ummi Sayyidah Fatimah Az-Zahra AS wa RA
❖ ❖ ❖
❖ ❖ ❖

GLOSARIUM

Istilah Kunci dalam Sulam Nurul Muttashil
Ahadiyah
Zat Allah yang mutlak, tanpa tajalli, tanpa sifat, tanpa manifestasi. Batas suci tauhid yang tidak dapat dijangkau indera, akal, maupun pengalaman spiritual.
Barzakh
Dinding pemisah atau ruang tunggu antara Rahim Bumi dan Rahim Cahaya Az-Zahra. Bukan Rahim dan bukan penyuci, tapi tempat pemisahan kemekatan duniawi.
Fana
Meleburnya ego hamba dalam kesatuan sifat Ilahi. Bukan penghancuran diri, tapi kepulangan.
Hidayah
Petunjuk Ilahi yang datang melalui keterhubungan ruh dengan Cahaya. Bukan pencapaian, tapi anugerah.
Inshirah
Pelapangan dada. Fenomena pertama pembukaan kesadaran saat karang ego mulai retak.
Ittishal
Ketersambungan. Penyambungan ruh dengan Cahaya Ilahi melalui wasilah Sholawat.
Ma'rifat
Pengenalan hakiki kepada Allah. Bukan pengetahuan intelektual, tetapi pengalaman langsung tentang kebenaran melalui hati yang terbuka.
Mahdiyyin
Orang-orang yang terpetunjuk. Kualitas batiniah, bukan identitas politik atau klaim eksklusif.
Mithaq
Kesaksian primordial. Rahim pertama di alam asal saat Allah mengambil kesaksian ruh.
Nurul Muttashil
Cahaya yang menghubungkan. Fungsi ilahiyah yang menata seluruh bagian diri manusia agar berada dalam kendali Ilahi.
Rahim
Tempat penjagaan dan pertumbuhan. Dalam Sulam Nurul Muttashil, Rahim adalah metafora untuk setiap fase perjalanan ruh.
Ruh Munfasil
Fragmen cahaya diri paling luar yang menjemput akal saat kulit hati mulai retak.
Ruh Muttashil
Guru sejati yang selalu terhubung ke Nur Muhammad. Pilot kesadaran di pusat orbit hati.
Tajalli
Penampakan cahaya Ilahi. Manifestasi Sifat Allah, bukan Zat Allah.
Tazkiyah
Penyucian. Proses kalibrasi delapan kabel sifat agar konduktivitas cahaya maksimal.
Wahdaniyah
Kesatuan Sifat Allah. Martabat pertama tajalli, tempat Nur Muhammad lahir sebagai kristalisasi cahaya.
Wushul
Kepulangan. Bukan prestasi spiritual, tapi kembali kepada Allah dengan tertib.
❖ ❖ ❖

REFERENSI

Sumber Primer dan Sekunder
A. Al-Qur'an al-Karim
Mushaf Al-Qur'an standar rasm Utsmani. Ayat-ayat yang dirujuk tersebar di 47 surat:
Al-Baqarah (2, 20, 28, 29, 156, 195, 249, 257, 282) Ali Imran (6, 7, 79) An-Nisa (43, 174) Al-Ma'idah (15, 35) Al-An'am (103, 122) Al-A'raf (11, 156, 172) Al-Anfal (17) At-Taubah (40) Yunus (12) Hud (6) Yusuf (101) Ar-Ra'd (28) Ibrahim (7) Al-Hijr (9) An-Nahl (102) Al-Isra (85) Al-Kahfi (17) Maryam (58) Taha (55, 110) Al-Anbiya (16, 107) Al-Hajj (46) Al-Mu'minun (100) An-Nur (35) Al-Furqan (2, 58) Asy-Syu'ara (88-89) An-Naml (40) Al-Ankabut (69) Ar-Rum (30) Luqman (27) As-Sajdah (7, 9, 24) Al-Ahzab (6, 33, 45-46, 56) Saba (28) Fatir (15) Yasin (12) Az-Zumar (22, 42) Ghafir (60) Fussilat (30, 53) Asy-Syura (11, 23) Az-Zukhruf (32) Ad-Dukhan (38) Al-Jathiyah (23) Al-Ahqaf (15) Muhammad (17) Al-Fath (10) Qaf (16, 37) Adh-Dhariyat (56) At-Tur (21) An-Najm (11, 42) Ar-Rahman (7-8) Al-Waqi'ah (88) Al-Hadid (3, 4) Al-Mujadilah (22) Al-Hashr (22) At-Talaq (3) At-Tahrim (8) Al-Mulk (14) Al-Qalam (4) Al-Haaqqah (17) Nuh (10, 28) Al-Jinn (26-27) Al-Muzzammil (20) Al-Muddaththir (38) Al-Qiyamah (36) Al-Insan (9) Al-Mursalat (25) An-Naba' (40) An-Nazi'at (40) Abasa (24) At-Takwir (29) Al-Infitar (19) Al-Mutaffifin (26) Al-Inshiqaq (6) Al-Buruj (14) At-Tariq (17) Al-A'la (3) Al-Ghashiyah (17) Al-Fajr (27-30) Al-Balad (17) Asy-Syams (9) Al-Lail (12-13) Ad-Duha (6) Al-Insyirah (1) At-Tin (4-5) Al-'Alaq (19) Al-Qadr (4-5) Al-Bayyinah (5) Az-Zalzalah (4-5) Al-'Adiyat (6-8) Al-Qari'ah (9-11) At-Takathur (8) Al-Asr (1-3) Al-Humazah (9) Al-Fil (3-5) Quraisy (4) Al-Ma'un (4-7) Al-Kautsar (1-3) Al-Kafirun (6) An-Nasr (3) Al-Masad (5) Al-Ikhlas (1-4) Al-Falaq (5) An-Nas (6)
B. Hadis Nabawi (Kitab Induk)
• Shahih Al-Bukhari (Nomor: 1, 39, 3336, 3714, 3768, 5988, 7386)
• Shahih Muslim (Nomor: 1907, 2408, 2444, 2449, 2450, 2541, 2638, 2704, 2816, 2985)
• Sunan At-Tirmidzi (Nomor: 485, 2155, 3205, 3609, 3788)
• Sunan Abu Dawud (Nomor: 8, 2041, 4700)
• Musnad Ahmad
• Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain, oleh Al-Hakim (Hadis Ahlul Kisa')
• Mushannaf 'Abdurrazzaq (18507) – sebagai riwayat pendukung konsep Nur Muhammad dalam khazanah tasawuf.
• Hilyatul Auliya', oleh Abu Nu'aim – sebagai referensi pendapat ulama.
C. Referensi Ulama & Kitab Tasawuf
• Ibn 'Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat Al-Makkiyah (Konsep Barzakh dan Tajalli).
• Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulumuddin (Sistematisasi ilmu tasawuf dan tazkiyatun nafs).
• Hamka (Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah). Tafsir Al-Azhar (Penafsiran kontekstual dan isyari).
❖ ❖ ❖
← Bab XI
✨ SULAM NURUL MUTTASHIL TELAH TAMAT ✨
Ke Beranda →

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Random Post

    Cari di web ini

    Youtube