Kitab Sulam an-Nūr al-Muttaṣil BAB II : Tangga Alam Cahaya yang Terhubung


Sulam an-Nūr al-Muttaṣil

Oleh : Zainal Ibnu Zahr

BAB II – TANGGA ALAM CAHAYA YANG TERHUBUNG

(Spektrum Kesadaran: Dari Alam Nāsūt menuju Rahim Cahaya Wahdaniyyah)

Pendahuluan

Perjalanan menuju Allah dalam perspektif Sulam an-Nūr al-Muttaṣil adalah proses menapaki tangga cahaya yang saling terhubung secara organik. Setiap Alam dalam kitab ini bukan wilayah geografis, tetapi perbedaan intensitas frekuensi cahaya dan kehalusan kesadaran ruhani. Memahami spektrum ini adalah peta jalan (Sulam) agar ruh mengenali jalur pulang menuju asal-muasalnya.

1. Dalil Cahaya: Nur sebagai Asal Segala Wujud

Segala wujud di jagat raya berasal dari satu hakekat tunggal: Nur Allah yang menampakkan diri-Nya melalui Nur Muhammad ﷺ. Materi padat hanyalah manifestasi cahaya yang memadat (densitas).

Dalil Al-Qur’an:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

"Allah adalah Cahaya langit dan bumi." (QS. An-Nūr [24]: 35)

Makna: Segala ciptaan adalah pancaran Cahaya-Nya; kesadaran manusia memiliki "tali pusat" yang terhubung langsung dengan sumber cahaya absolut ini.

Hadis Nabawi ﷺ:

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُورِي

"Yang pertama kali diciptakan Allah adalah cahayaku." (HR. Abdurrazzaq dari Jābir bin Abdillāh)

Makna: Nur Nabi ﷺ adalah titik awal manifestasi (Tajallī) dari Nur Allah, fondasi primordial bagi seluruh makhluk.

2. Spektrum Tujuh Alam Cahaya (Tangga Makrifat)

2.1 Alam Aḥadiyyah (Zat Mutlak)

Narasi: Lautan tanpa tepi, dimensi Zat Allah semata tanpa dualitas, bentuk, atau arah. Keheningan murni ini melampaui akal dan imajinasi.

Dalil Al-Qur’an:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid [57]: 3)

Makna: Zat Mutlak adalah sumber seluruh wujud; dualitas lenyap menjadi keesaan murni.

2.2 Alam Waḥdaniyyah (Rahim Potensi)

Narasi: Rahim Cahaya tempat segala kemungkinan wujud tersimpan sebagai "ide Ilahi". Celupan pertama Dzat ke dalam kesadaran manifestasi.

Dalil Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. al-Baqarah [2]: 20)

Makna: Setiap potensi wujud lahir dari Kuasa dan Kehendak-Nya; ruh menyadari benih Ilahiyyah dalam dirinya.

2.3 Alam Waḥdah (Nur Muhammad ⚭ Nur az-Zahrā)

Narasi: Nur Muhammad muncul sebagai Tajallī pertama dari Rahim Waḥdaniyyah, memancar bersama Nur az-Zahrā sebagai sisi feminin (Rahim). Kesatuan kedua kutub cahaya ini melahirkan seluruh realitas cahaya.

Dalil Hadis:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي ، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي

"Fatimah adalah bagian dariku (cahayaku), maka barangsiapa yang membuatnya marah, ia membuatku marah." (HR. al-Bukhārī No. 3714 & Muslim No. 2449)

Dalil Al-Qur’an:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. al-A‘rāf [7]: 156)

Makna: Nur az-Zahrā adalah manifestasi pengasuhan Ilahi; sumber rahmat dan perlindungan ruh sebelum menempuh alam jasad.

2.4 Alam Wāḥidiyyah (Alam Kauniyyah ⚭ Alam Malakūt)

Narasi: Cahaya mulai membentuk domain pengaturan semesta:

Alam Kauniyyah: asal mula energi dan benih fisik.

Alam Malakūt: dimensi cahaya halus tempat pengaturan sistem semesta.

Dalil Al-Qur’an:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

"Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. al-Furqān [25]: 2)

Makna: Alam Kauniyyah & Malakūt adalah manifestasi presisi Ilahi; ruh manusia belajar membaca aturan Tuhan.

2.5 Alam Jabarūt (Alam Ruh dan Kekuasaan Ghaib)

Narasi: Tempat kekuatan Ilahi dan kekuasaan ghaib, di mana ruh-ruh murni bersemayam dan Ilmu Ladunni memancar bagi hamba terpilih.

Dalil Al-Qur’an:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi..." (QS. as-Sajdah [32]: 5)

Makna: Ruh menyadari keterkaitannya dengan kosmos yang digerakkan satu Kekuatan Tunggal.

2.6 Alam Miṡāl (Alam Citra dan Simbol)

Narasi: Cermin penghubung dunia ruhani dan dunia fisik; cahaya membentuk citraan halus yang diterjemahkan menjadi mimpi, ilham, atau simbol makrifat.

Dalil Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main." (QS. al-Anbiyā’ [21]: 16)

Makna: Alam Miṡāl adalah jembatan serius agar manusia menangkap refleksi cahaya tinggi melalui bahasa simbolik.

2.7 Alam Nāsūt (Alam Manusia dan Dunia Fisik)

Narasi: Alam terakhir yang paling padat, tempat jasad hidup. Ruh belajar melalui keterbatasan materi sebagai laboratorium spiritual (Rahim Bumi).

Dalil Al-Qur’an:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu..." (QS. al-Baqarah [2]: 29)

Makna: Nāsūt adalah medan ujian untuk menghidupkan kembali "api" Nur dalam tubuh.

3. Jalur Penurunan dan Pendakian Cahaya

Tajallī Nuzūlī (Penurunan): Ruh turun dari Aḥadiyyah melalui rahim-rahim cahaya hingga memadat di Nāsūt.

Tajallī Su’ūdī (Pendakian): Kesadaran ruhani mendaki tangga cahaya hingga kembali ke Rahim Cahaya Wahdaniyyah.

Dalil Al-Qur’an:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian dimatikan, dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (QS. al-Baqarah [2]: 28)

4. Metafora: Air dan Samudera

Mata Air Tersembunyi: Aḥadiyyah.

Sungai Utama: Waḥdah, Jabarūt, Malakūt.

Samudera Luas: Nāsūt dan Kauniyyah.

Setiap tetesan air (manusia) membawa hakekat dari mata air asalnya; perjalanan spiritual adalah proses tetesan menyadari hakekatnya dan kembali ke hulu.

5. Penutup Bab II

Spektrum alam cahaya adalah peta jalan (Sulam) menuju kepulangan yang benderang. Terminal akhir tetap Rahim Cahaya Wahdaniyyah melalui jalur perlindungan Nur az-Zahrā, untuk menyempurnakan kesadaran Ilahi yang kekal.

Catatan Istilah:

Tajallī: Penampakan cahaya Ilahi

Nuzūlī: Penurunan cahaya dari tinggi ke rendah

Su’ūdī: Pendakian cahaya dari rendah ke tinggi

Muttashil: Terhubung, kesatuan cahaya

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *