Kitab Sulam an-Nūr al-Muttaṣil, BAB III – Tata Cara Menuju Alam Rahim Wahdaniyyah (Wushul Ilallāh)
Oleh : Zainal Ibnu Zahr
BAB III – TATA CARA MENUJU ALAM RAHIM WAHDANIYYAH (Wushul Ilallāh)
(Manusia sebagai Tetesan Cahaya Menuju Jalur Pulang)
1. Pendahuluan: Wushul sebagai Kepulangan yang Tertib
Dalam perspektif Sulam an-Nūr al-Muttaṣil, Wushul atau sampainya kesadaran kepada Allah bukanlah pencapaian ego, melainkan kepulangan yang tertib. Manusia dipahami sebagai tetesan cahaya yang terlempar ke alam materi (Nāsūt) dan perlu menempuh jalur pulang melalui setiap unsur dirinya: jasad, akal, jiwa, dan ruh.
Prinsip utama adalah: setiap bagian diri harus kembali kepada “Ibu”-nya masing-masing sebagai terminal penyucian agar jalur ruh tetap bersih dan siap memasuki frekuensi Rahim Cahaya Wahdaniyyah.
Kata Mutiara:
"Manusia tak pernah benar-benar mencari Allah; Allah-lah yang memperkenalkan diri pada manusia, dan pengenalan pertama adalah dalam wujud seorang Ibu."
2. Sujud: Alat Registrasi Kepulangan ke Rahim Wahdaniyyah
Sujud bukan sekadar rukun sholat, tetapi alat registrasi ruhani. Ketika dahi menyentuh bumi, jasad mengakui asal-muasalnya. Di titik ini, identitas palsu dilepaskan, memberi izin akses (login) bagi ruh ke frekuensi lebih tinggi.
Dalil Al-Qur’an:
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب
"Sekali-kali jangan! Janganlah patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)." (QS. al-`Alaq [96]: 19)
Makna: Sujud adalah “paspor” cahaya. Tanpa sujud tulus, ruh tertahan di alam Nāsūt karena dianggap belum menyelesaikan urusannya dengan elemen bumi.
3. Mekanisme Pemulangan Bagian Diri (Sulam al-Arwāḥ)
Untuk mencapai ketersambungan mutlak (Al-Muttaṣil), setiap unsur manusia dipulangkan ke asal pengasuhannya masing-masing:
A. Jasad: Pulang ke Ibu Bumi & Ibu Kandung
Jasad fisik kembali ke Ibu Bumi melalui sujud dan ke Ibu Kandung melalui bakti fisik. Bumi bertindak sebagai saksi keberadaan jasad di alam materi.
Dalil Al-Qur’an (Bumi sebagai saksi):
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا . بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
"Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya." (QS. az-Zalzalah [99]: 4–5)
Indikator Kesadaran: Saat melakukan sujud atau bakti, timbul rasa ringan pada jasad dan ketenangan yang terasa di seluruh tubuh; ini pertanda ruh sedang mulai tersambung ke frekuensi bumi dan alam materi.
B. Akal: Mensucikan Rahim Jalan Ruh (Melalui Istighfar)
Akal bertugas menyucikan jalur yang dilalui ruh saat lahir: Rahim Ibu. Kesadaran manusia hanya lahir dari rahim yang cahaya.
Fakta Historis:
Nabi Isa AS lahir dari rahim suci Maryam AS.
Al-Hasan & Al-Husein lahir dari rahim suci Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Anak Nabi Nuh AS tetap dalam kegelapan karena rahim yang mengandungnya tidak selaras dengan cahaya nabi.
Dalil Al-Qur’an (Istighfar untuk orang tua):
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku." (QS. Nūḥ [71]: 28)
Indikator Kesadaran: Terjadi ketenangan batin, muncul perasaan ringan dan terbuka di akal; ini adalah tanda bahwa “lorong” menuju rahim ibu telah bersih dari penghalang ego.
C. Jiwa (Nafs): Pulang ke Nur az-Zahra untuk Penyucian
Jiwa yang masih membawa residu ego dan nafsu dipulangkan ke terminal Nur az-Zahra (Rahim Kautsar). Beliau adalah pemegang wasilah penyucian batin (At-Tathir).
Dalil Al-Qur’an:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa (kotoran) dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. al-Aḥzāb [33]: 33)
Dalil Hadis tentang Sholawat sebagai sarana jiwa pulang:
اللَّهُم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad." (HR. Tirmidzi No. 393, shahih)
Makna: Sholawat adalah sarana ruh tersambung dengan Cahaya Nabi, saat membaca sholawat, proses pulang jiwa sedang berlangsung.
Indikator Kesadaran: Muncul ilham, rasa damai yang mengalir, dan pandangan batin terasa terang; ini adalah tanda jiwa telah bersentuhan dengan Rahim Cahaya.
D. Ruh: Langsung ke Rahim Cahaya Wahdaniyyah
Setelah akal dan jiwa disucikan, ruh dapat melesat kembali ke samudera Cahaya Wahdaniyyah, melebur (fana’) dan bersatu dengan Cahaya Asal (baqā’).
Dalil Al-Qur’an:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida lagi diridai-Nya." (QS. al-Fajr [89]: 27–28)
Indikator Kesadaran: Rasa lengkap, damai, tanpa keterikatan dunia, muncul ilham langsung, dan “cerita” batin yang dapat dimengerti akal bahwa ruh telah mencapai Rahim Wahdaniyyah.
4. Mekanisme Kepulangan Setiap Bagian Diri
Jasad
Jasad manusia pulang ke Ibu Bumi dan Ibu Kandung melalui sujud dan bakti fisik. Sujud bukan sekadar ritual, tetapi registrasi keberadaan jasad di alam materi. Saat jasad melakukan sujud atau tindakan bakti kepada orang tua, tubuh akan terasa ringan dan tenang, seolah aliran energi bumi tersambung ke setiap sel tubuh. Inilah pertanda bahwa ruh sedang mulai tersambung ke frekuensi bumi dan terminal jasad telah dikenali.
Akal
Akal bertugas mensucikan jalur yang dilalui ruh saat lahir, yaitu Rahim Ibu. Praktiknya dilakukan melalui istighfar, memohon ampunan untuk kedua orang tua. Saat akal melakukan istighfar dengan penuh kesadaran, muncul ketenangan batin, rasa lega, dan terbuka; ini menandakan bahwa “lorong” kepulangan ruh telah dibersihkan dari hambatan ego atau kekotoran batin.
Jiwa (Nafs)
Jiwa yang membawa residu ego dipulangkan ke Nur az-Zahra (Rahim Kautsar) untuk penyucian. Sarana utama adalah sholawat dan cinta. Ketika jiwa tersambung melalui sholawat, muncul ilham, pandangan batin menjadi terang, serta rasa damai mengalir ke seluruh kesadaran. Ini adalah tanda bahwa jiwa telah disentuh Rahim Cahaya dan ego mulai larut.
Ruh
Setelah jasad, akal, dan jiwa tersucikan, ruh dapat melesat ke Rahim Cahaya Wahdaniyyah, mengalami pelepasan diri (fana’) dan bersatu kembali dengan Cahaya Asal (baqā’). Saat ini, muncul rasa lengkap, damai, dan hadirnya petunjuk ilham yang bisa dipahami akal; tanda ruh telah sampai di terminal akhir perjalanan pulang.
5. Penutup Bab III
Wushul bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa jujur kita pulang. Menyucikan rahim ibu melalui istighfar, sholawat, dan bakti membuka jalan bagi ruh untuk menembus dinding-dinding alam cahaya.
Seorang anak yang menyucikan ibunya secara spiritual adalah pejalan cahaya yang sedang menghapus hambatan di gerbang Wahdaniyyah. Inilah hakekat Sulam an-Nūr al-Muttaṣil: ketersambungan cahaya yang tidak terputus, dari rahim bumi hingga Rahim Ketuhanan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar