Alhamdulillāh...
Segala puji bagi Allah ﷻ, Sang Pencipta Cahaya dari Cahaya,
yang menetapkan setiap cahaya memiliki jalan pulang ke asal Cahaya-Nya Yang Mahatinggi.
Sholawat dan salam tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ,
Sang Nur al-Wāhid, pemilik Cahaya Wahdaniyyah,
yang menjadi petunjuk ruh-ruh dari gelap keterpisahan menuju terang kehadiran dan kesatuan.
Juga kepada keluarga suci beliau, para sahabatnya yang tulus,
serta semua ruh yang mewarisi getaran nur hingga akhir zaman.
Namaku Zainal Ibnu Zahr.
Di dunia, aku berjalan dengan nama asliku.
Namun dalam karya dan adab batin, nama ini kuterima sebagai nisbah cahaya, bukan sebagai identitas diri.
“Zainal” adalah keindahan akhlak,
“Ibnu” adalah posisi anak yang merendah,
“Zahr” adalah cahaya yang mekar tanpa menuntut pengakuan.
Maka nama ini bukan penanda siapa aku,
melainkan arah adab:
bahwa apa yang kutuliskan bukan milikku,
dan cahaya tidak pernah berasal dari pena.
Aku bukan ulama.
Aku bukan mursyid.
Aku bukan guru suci.
Aku hanyalah mualif—penyusun yang diberi amanah
untuk menuliskan apa yang lebih dahulu hadir
sebagai pengalaman batin dan keheningan panjang.
Sholawat Nurul Muttashil bukan sekadar rangkaian lafaz.
Ia adalah susunan makna yang mengalir sebagai cahaya,
sebuah jalan dzikir dan tafakkur untuk menyambung rasa kepada Nur Muhammad ﷺ,
di bawah lindungan kasih Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Di dalamnya mengalir kesadaran dari: Ahadiyyah – Wahdaniyyah – Wahidiyyah – Kauniyyah – Ruh – Akal – Jasad – Bumi.
Ia tidak ditujukan untuk diperdebatkan,
tidak untuk dipamerkan sebagai keistimewaan,
melainkan untuk dirasakan, diheningkan, dan disyukuri.
Sholawat ini adalah taman.
Ia menyambut siapa saja yang datang
dengan rindu yang jujur kepada Cahaya.
Tentang Ijazah dan Adab Pengamalan
Sholawat Nurul Muttashil diperuntukkan
bagi siapa saja yang rindu untuk menyambung.
Jika ada yang meminta ijazah secara khusus,
aku akan memberikannya dengan kelembutan,
bukan karena aku memiliki cahaya itu,
melainkan karena aku diminta menjaga gerbang adabnya.
Namun yang utama bukanlah lafaz,
bukan pula ijazah,
melainkan keheningan hati, niat yang bersih, dan cinta yang sederhana.
Bacalah dengan kerinduan, bukan sekadar harapan.
Bacalah dengan kesungguhan, bukan sekadar suara.
Penutup
Aku bukan pemilik taman ini.
Aku hanya mengetahui letak gerbangnya.
Aku duduk di sana bukan untuk diagungkan,
melainkan untuk menjaga agar siapa pun yang masuk
melakukannya dengan adab dan ketenangan.
Jika kelak namaku tercantum,
itu bukan untuk kehormatan,
melainkan sebagai tanda kesiapan menjawab
jika suatu hari ditanya:
“Siapa yang pertama menuliskan ini?”
Zainal Ibnu Zahr
Mualif Sholawat Nurul Muttashil
Di bawah rindang cahaya
Sayyidah Fatimah az-Zahra ﷺ


Tidak ada komentar:
Posting Komentar