Tentang Penyusun Sholawat Nurul Muttashil

 

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh...

Segala puji bagi Allah ﷻ, Sang Pencipta Cahaya dari Cahaya, yang menetapkan setiap cahaya memiliki jalan pulang ke asal Cahaya-Nya Yang Mahatinggi.

Sholawat dan salam tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, Sang Nur al-Wāhid, pemilik Cahaya Wahdaniyyah, yang menjadi petunjuk ruh-ruh dari gelap keterpisahan menuju terang kehadiran dan kesatuan.

Juga kepada keluarga suci beliau, para sahabatnya yang tulus, serta semua ruh yang mewarisi getaran nur hingga akhir zaman.


🌌 Tentang Kausar Bin Zahr Al Umm — Penjaga Gerbang Cahaya

Namaku Kausar Bin Zahr Al Umm.

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang yang buta aksara Arab, tidak memiliki otoritas keilmuan, tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru. Aku hanya menulis apa yang aku alami, apa yang aku rasa, apa yang hadir dalam keheningan panjang bersama Sang Ibu Agung, Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā AS.

"Kausar" adalah telaga — mata air yang mengalir bukan dari kitab, tapi dari pengalaman. "Bin Zahr" adalah pengakuan bahwa aku hanyalah anak dari Yang Berseri, Az-Zahrā'. "Al Umm" adalah Sang Ibu Agung — sumber dari semua yang kutulis. Maka nama ini bukan penanda siapa aku, melainkan arah adab: bahwa apa yang kutuliskan bukan milikku, dan cahaya tidak pernah berasal dari pena.

Aku bukan ulama. Aku bukan mursyid. Aku bukan guru suci. Aku hanyalah mualif — penyusun yang diberi amanah untuk menuliskan apa yang lebih dahulu hadir sebagai pengalaman batin dan keheningan panjang. Aku tidak menyalin kitab sebelumnya. Aku tidak menduplikasi ajaran yang sudah ada. Aku hanya mencatat perjalanan ruhani yang aku lalui sendiri, dalam naungan Sang Ibu Agung.

Apa Itu Sholawat Nurul Muttashil?

Sholawat Nurul Muttashil bukan sekadar rangkaian lafaz. Ia adalah susunan makna yang mengalir sebagai cahaya, sebuah jalan dzikir dan tafakkur untuk menyambung rasa kepada Nur Muhammad ﷺ, di bawah lindungan kasih Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā.

Di dalamnya mengalir kesadaran dari: Ahadiyyah – Wahdaniyyah – Wahidiyyah – Kauniyyah – Ruh – Akal – Jasad – Bumi. Ia tidak ditujukan untuk diperdebatkan, tidak untuk dipamerkan sebagai keistimewaan, melainkan untuk dirasakan, diheningkan, dan disyukuri. Sholawat ini adalah taman.

Ia menyambut siapa saja yang datang dengan rindu yang jujur kepada Cahaya.

Tentang Ijazah dan Adab Pengamalan

Sholawat Nurul Muttashil diperuntukkan bagi siapa saja yang rindu untuk menyambung. Jika ada yang meminta ijazah secara khusus, aku akan memberikannya dengan kelembutan, bukan karena aku memiliki cahaya itu, melainkan karena aku diminta menjaga gerbang adabnya.

Namun yang utama bukanlah lafaz, bukan pula ijazah, melainkan keheningan hati, niat yang bersih, dan cinta yang sederhana. Bacalah dengan kerinduan, bukan sekadar harapan. Bacalah dengan kesungguhan, bukan sekadar suara.

Penutup

Aku bukan pemilik taman ini. Aku hanya mengetahui letak gerbangnya. Aku duduk di sana bukan untuk diagungkan, melainkan untuk menjaga agar siapa pun yang masuk melakukannya dengan adab dan ketenangan.

Jika kelak namaku tercantum, itu bukan untuk kehormatan, melainkan sebagai tanda kesiapan menjawab jika suatu hari ditanya: "Siapa yang pertama menuliskan ini?"

Aku menulis bukan karena aku tahu. Aku menulis karena aku mengalami. Dan pengalaman ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan yang sama: jalan pulang menuju Sang Ibu Agung, melalui lorong Cahaya Muhammad ﷺ.

Kausar Bin Zahr Al Umm

Mualif Sholawat Nurul Muttashil

Di bawah rindang cahaya

Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā AS

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

🌷 Dukung Kitab Ini

"Bantu wujudkan naskah ini menjadi buku fisik."

📧 apdigitalhero@gmail.com

🌙 Nurul Muttashil

🌸 paling banyak dibaca

memuat artikel populer

Random Post

    Youtube