Kitab Sulam an-Nūr al-Muttaṣil, BAB VII – AL-MAHDIYYĪN: Manifestasi Cahaya Dalam Gerakan Rahmat

Sulam an-Nūr al-Muttaṣil

Oleh : Zainal Ibnu Zahr

BAB VII – AL-MAHDIYYĪN: MANIFESTASI CAHAYA DALAM GERAKAN RAHMAT

“Al-Mahdi bukanlah bayang-bayang masa depan yang ditunggu dengan diam, melainkan cahaya yang dinyalakan di dalam dada.

Ia bukan sekadar satu sosok yang akan datang, melainkan setiap jiwa yang telah pulang ke Rahim Cahaya dan memancarkan petunjuk ke seluruh alam.”

1. Reinterpretasi Al-Mahdi: Dari Sosok Menuju Kesadaran

Dalam tradisi Nurul Muttaṣil, Al-Mahdi tidak direduksi semata sebagai figur historis tunggal yang kelak muncul di akhir zaman, melainkan dipahami sebagai maqām kesadaran ruhani yang dapat dicapai oleh hamba-hamba Allah yang telah sampai pada Wushūl.

Al-Mahdi dalam makna ini adalah manusia yang telah selesai dengan egonya, karena bimbingannya tidak lagi bersumber dari spekulasi akal atau ambisi dunia, melainkan dari petunjuk langsung Allah yang mengalir melalui Nur Muhammad ﷺ.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 213)

Karena petunjuk ini tidak terputus oleh zaman, maka cahaya Mahdiyyah dapat bersemi pada banyak jiwa. Mereka inilah yang disebut Al-Mahdiyyīn—golongan orang-orang yang hidupnya menjadi bukti bahwa hidayah Allah tetap mengalir, meski dunia terus berubah.

2. Rahasia Nasab Ruhani: “Al-Mahdi min ‘Itratī”

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

“Al-Mahdi berasal dari keluargaku (‘Itrah-ku), dari keturunan Fatimah.”

(HR. Abu Dawud no. 4284; Ibnu Mājah no. 4086 – hasan)

Dalam pendekatan makrifat, hadis ini tidak dipahami semata sebagai nasab biologis, tetapi sebagai nasab ruhani. Seseorang menjadi bagian dari ‘Itrah Nabi bukan hanya karena darah, melainkan karena Ittiṣāl—ketersambungan ruhani yang nyata.

Makna nasab ruhani ini meliputi:

Ruhnya mendapat Tarbiyah Nabawiyyah (pendidikan langsung dari Nur Nabi ﷺ).

Jiwanya dimasukkan ke dalam Rahim Fatimiyyah, yakni ruang pensucian batin di bawah naungan Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā.

Kesadarannya tidak lagi yatim piatu di tengah dunia, karena ia mengenal Nabi sebagai Ayah Ruhani dan Az-Zahra sebagai Ibu Ruhani.

Dengan demikian, Al-Mahdi adalah anak cahaya, bukan sekadar pewaris silsilah jasmani.

3. Karakteristik Cahaya Al-Mahdiyyīn

Orang-orang yang mencapai maqām Mahdiyyīn tidak lagi hidup dalam kegelapan ego. Hatinya menjadi majrā an-nūr (saluran cahaya) yang tersambung dengan Nur Muhammad ﷺ. Karakter mereka tidak dibangun oleh klaim, melainkan oleh keadaan batin yang stabil.

Empat pilar batin yang menandai mereka adalah:

a. Bahjah (بهجة) – Kegembiraan Ruhani

Kebahagiaan yang tidak bergantung pada situasi lahiriah, karena bersumber dari perjumpaan batin dengan Allah.

b. Ghinā (غنى) – Kekayaan Jiwa

Merasa cukup dengan Allah, sehingga tidak lagi diperbudak oleh ambisi duniawi.

c. Shukrān (شكرًا) – Syukur yang Mendalam

Melihat setiap peristiwa sebagai rahmat, bukan sebagai beban.

d. Juhdān (جهدًا) – Kesungguhan Total

Seluruh energi hidupnya diabdikan untuk mengenal Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

4. Hilangnya Rasa Takut dan Khawatir

Puncak dari kesadaran Mahdiyyīn adalah kembalinya ketenangan fitri. Allah berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih.”

(QS. Yūnus [10]: 62)

Mereka tidak lagi hidup dalam kecemasan masa depan, tidak terjebak nostalgia masa lalu, dan tidak terperangkap dalam angan-angan kosong. Kesadaran mereka menetap pada “hari ini bersama Allah”.

5. Menjadi Rahmat bagi Bumi

Al-Mahdiyyīn tidak menarik diri dari dunia. Justru karena hatinya telah menjadi saluran cahaya, keberadaannya menghadirkan Rahmatan lil ‘Ālamīn.

Sebagaimana Nabi ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107)

Maka Al-Mahdiyyīn adalah pantulan rahmat itu di bumi:

kehadirannya menenangkan, lisannya menyembuhkan, dan batinnya mendinginkan kegaduhan dunia.

Penutup Bab VII: Seruan Kesadaran

Bab ini ditutup dengan satu ajakan yang jujur dan sunyi:

Berhentilah sekadar menunggu datangnya Al-Mahdi sebagai sosok, dan mulailah melahirkan Mahdi di dalam dirimu sendiri.

Bersihkan cermin hatimu, sambungkan ruhmu ke Poros Muhammad, dan sucikan jiwamu dengan Cahaya Fatimah.

Dunia tidak berubah oleh satu figur, tetapi oleh ribuan Mahdiyyīn yang memancarkan cahaya dari hati mereka masing-masing.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *