Oleh : Zainal Ibnu Zarh
(Perjalanan Evolusi Ruh: Dari Rahim ke Rahim)
Pendahuluan
Dalam cakrawala pemikiran Sulam an-Nūr al-Muttaṣil, fenomena “kelahiran kembali” bukanlah reinkarnasi (tanāsukh al-arwāḥ) atau perpindahan ruh ke jasad lain. Kelahiran kembali adalah Transmigrasi Kesadaran Vertikal.
Ruh dipahami sebagai entitas dinamis yang berpindah dari satu fase perlindungan (Rahim) ke fase berikutnya untuk menyempurnakan pengenalan (ma’rifat) kepada Sang Pencipta. Perjalanan ini bersifat sirkular: berasal dari Cahaya, turun ke bumi, dan kembali menaiki tangga kesadaran menuju asalnya.
Narasi: Sebelum jasad fisik dirakit dari tanah, ruh manusia telah dilahirkan dalam dimensi perjanjian agung. Inilah titik nol kesadaran, tempat ruh memberikan kesaksian primordial terhadap ketuhanan Allah. Peristiwa ini menanamkan Deep Memory (Ingatan Batin) yang menjadi kompas fitrah bagi setiap insan.
Dalil Al-Qur’an:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi’.” (QS. al-A‘rāf [7]: 172)
Narasi: Setelah perjanjian, ruh tidak langsung dijatuhkan ke alam materi, melainkan memasuki fase Rahim al-Iṣṭifā (Rahim Pemilihan). Ruh dinaungi oleh Nur az-Zahrā, yakni manifestasi sisi feminin (kasih sayang/pengasuhan) dari Nur Muhammad. Fase ini berfungsi memberkati ruh dengan bekal cinta dan kekuatan cahaya agar sanggup memikul amanah di dunia yang rendah.
Dalil Hadis:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي ، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
“Fatimah adalah bagian dariku (cahayaku), maka barangsiapa yang membuatnya marah, ia membuatku marah.” (HR. al-Bukhārī No. 3714 & Muslim No. 2449)
Dalil Al-Qur’an: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. al-A‘rāf [7]: 156)
Narasi: Setelah perjanjian, ruh tidak langsung dijatuhkan ke alam materi, melainkan memasuki fase Rahim al-Iṣṭifā (Rahim Pemilihan). Ruh dinaungi oleh Nur az-Zahrā, yakni manifestasi sisi feminin (kasih sayang/pengasuhan) dari Nur Muhammad. Fase ini berfungsi memberkati ruh dengan bekal cinta dan kekuatan cahaya agar sanggup memikul amanah di dunia yang rendah.
Dalil Hadis:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي ، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
“Fatimah adalah bagian dariku (cahayaku), maka barangsiapa yang membuatnya marah, ia membuatku marah.” (HR. al-Bukhārī No. 3714 & Muslim No. 2449)
Dalil Al-Qur’an: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. al-A‘rāf [7]: 156)
Narasi: Ruh ditiupkan ke dalam janin, menandai pertemuan antara cahaya dan tanah. Rahim biologis adalah miniatur fisik dari Rahim Cahaya. Di sini, ruh mengalami penyempitan kesadaran (contraction) agar patuh pada hukum fisik, sekaligus menjadi awal dari ujian "lupa" dan "ingat".
Dalil Al-Qur’an:
ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya.” (QS. as-Sajdah [32]: 9)
Dalil Hadis: الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ
“Rahim itu adalah cabang (ikatan) dari Ar-Rahman.” (HR. al-Bukhārī No. 5988)
Narasi: Bumi adalah Rahim Makro tempat manusia bertumbuh. Sebagaimana rahim ibu memberi nutrisi jasad, bumi memberi nutrisi ujian. Namun, di dalam diri manusia terdapat Qalb (hati)—sebuah rahim batin yang harus diaktifkan melalui dzikir agar kesadaran murni tidak tertelan oleh kegelapan materi.
Dalil Al-Qur’an:
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
“Dari bumilah Kami menciptakan kamu, ke padanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan darinyalah Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Ṭāhā [20]: 55)
Narasi: Kematian fisik adalah proses "melahirkan diri" menuju dimensi yang lebih tinggi. Barzakh bertindak sebagai rahim pembersihan, di mana residu nafsu dan keterikatan duniawi dilepaskan agar ruh menjadi ringan untuk menanjak kembali.
Dalil Al-Qur’an:
وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding pemisah) sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mu’minūn [23]: 100)
Narasi: Pasca pemurnian, ruh kembali melalui gerbang Nur az-Zahrā. Dalam dimensi ini, ia bermanifestasi sebagai Al-Kautsar (Nikmat yang Melimpah). Ketika kaum kafir mencemooh Nabi ﷺ sebagai Abtar (terputus nasabnya), Allah menjawabnya dengan memberikan Al-Kautsar—yang secara isyārah merujuk pada Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Beliau adalah lokus terpancarnya keturunan cahaya dan pemegang wasilah penyucian batin (At-Tathir). Di terminal ini, ruh "dimandikan" dalam telaga cinta untuk mencapai kesucian mutlak.
Dalil Al-Qur’an (Hakekat Kautsar):
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” (QS. al-Kautsar [108]: 1)
Dalil Al-Qur’an (Wasilah Penyucian):
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. al-Aḥzāb [33]: 33)
Narasi: Terminal akhir perjalanan adalah kepulangan penuh kesadaran. Inilah maqam di mana ego hamba melebur (fana’) dan yang tersisa hanyalah Wajah Tuhan yang kekal (baqā’). Ruh kembali ke samudera Wahdaniyyah dalam keadaan rida dan diridai.
Dalil Al-Qur’an:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. al-Baqarah [2]: 156)
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida lagi diridai-Nya.” (QS. al-Fajr [89]: 27–28)
Penting untuk dipahami bahwa perjalanan menapaki tangga (sulam) menuju Rahim Cahaya Wahdaniyyah ini tidaklah mutlak harus menunggu hancurnya jasad ragawi. Puncak dari ajaran Sulam an-Nūr al-Muttaṣil adalah upaya untuk "Pulang Sebelum Mati".
Inilah yang dikejar oleh para pejalan spiritual (sālik) dan kaum sufi melalui disiplin ruhani yang ketat. Dalam sejarah spiritual Islam, pencapaian ini dikenal dengan berbagai istilah:
Al-Fanā’: Meleburnya eksistensi diri di hadapan Tuhan.
Al-Wusūl: Sampainya kesadaran ruhani ke hadirat Ilahi.
Musyāhadah: Penyingkapan mata batin untuk menyaksikan Cahaya-Nya.
Dengan menyucikan jalur "Rahim" dalam diri melalui perantara Nur az-Zahrā, seorang hamba dapat melintasi Barzakh egonya sendiri dan mencicipi kelezatan Wahdaniyyah selagi kaki masih berpijak di bumi. Inilah hakikat kelahiran kembali yang sejati: lahir dari gelapnya kelalaian menuju terangnya kesadaran abadi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar