Kitab Sulam an-Nūr al-Muttaṣil, BAB V: HAMBATAN MAKRIFAT: Mengurai Hijab dan Kecelakaan Spiritual

Sulam an-Nūr al-Muttaṣil

Oleh : Zainal Ibnu Zahr

BAB V – HAMBATAN MAKRIFAT: MENGURAI HIJAB DAN KECELAKAAN SPIRITUAL

Kata Pengantar:

“Jarak antara engkau dan Tuhanmu bukanlah bentangan bumi yang harus ditempuh dengan kaki, melainkan tumpukan debu ego yang harus disapu dari cermin hati. Sungguh ironis, seorang hamba yang tenggelam di tengah samudera, namun mati kehausan karena ia menutup mulutnya dengan prasangka.”

Pendahuluan: Paradoks Kedekatan

Allah berfirman:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qāf [50]: 16)

Makna: Kedekatan Tuhan mutlak, namun kesadaran manusia sering terhalang oleh hijab-hijab yang ia ciptakan sendiri—kabut frekuensi akibat kesalahan laku dan pemikiran.

1. Salah Niat: Spiritual Sebagai Alat Pemuas Nafsu

Banyak pejalan mencari kenyamanan batin, bukan Sang Pencipta. Ini adalah bentuk syirik tersembunyi. Ketika ujian datang, mereka menyalahkan Tuhan, padahal tujuan awal mereka bukan Wushul, melainkan kepuasan nafsu.

Dalil Hadis:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapat sesuai yang diniatkannya.”

(HR. Bukhari & Muslim, Shahih)

Makna: Niat menentukan arah perjalanan spiritual; tanpa niat tulus, makrifat menjadi sia-sia.

2. Penjara Otoritas dan Matinya Kemandirian Ruh

Makrifat memerlukan kemandirian ruhani. Ketergantungan mutlak kepada guru/mursyid mematikan potensi cahaya dalam diri. Mursyid hanyalah penunjuk jalan, bukan pengganti hubungan personal dengan Allah.

Dalil Qur’an:

وَمَن يُضَلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“…Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang wali (pelindung) yang memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 17)

Makna: Kemandirian untuk mendapatkan petunjuk langsung dari Allah adalah tujuan utama. Guru adalah wasilah, bukan pengganti usaha pribadi.

3. Belenggu Dogma Tanpa Dalil dan Khurofat

Hambatan lain adalah doktrin tanpa landasan dalil. Contoh: “Barangsiapa belajar makrifat tanpa guru, gurunya adalah syaitan.”

Fakta: Tidak ada dalil shahih. Syaitan tidak memiliki kuasa atas hati yang jujur meratap kepada Allah. Belajar makrifat membutuhkan ilmu luas, bimbingan batin (Lubb), serta pengalaman dari kitab dan alam, bukan taklid buta.

4. Kelumpuhan Mujahadah (Kurangnya Kesungguhan)

Makrifat memerlukan perjuangan nyata (Mujahadah). Tanpa kesungguhan dalam istighfar, konsistensi sholawat, dan bakti kepada orang tua, pintu langit tetap tertutup.

Dalil Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

Makna: Mujahadah adalah kunci agar pintu Wushul terbuka. Tanpa kesungguhan, perjalanan cahaya menjadi hambar.

5. Sakratul Makrifah (Jadzab): Kecelakaan Akal dalam Cahaya

Fenomena Jadzab sering disalahpahami sebagai maqam tinggi, padahal ia adalah kecelakaan spiritual. Terjadi saat akal dipaksa melihat cahaya tinggi tanpa persiapan.

Dalil Qur’an:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Makna: Akal yang tidak siap bisa “terceleng” dalam frekuensi cahaya, kehilangan keseimbangan antara jasad dan ruh. Seorang wali sejati tetap jernih akalnya di tengah samudera cahaya.

Penegasan Arah: Lurusnya Niat, Cara, dan Perjalanan

Seluruh hambatan makrifat yang telah diuraikan pada bab ini pada hakikatnya bermuara pada satu akar yang sama: ketidakkonsistenan antara niat, cara, dan perjalanan. Ketika ketiganya tidak berada dalam satu garis lurus, maka cahaya yang seharusnya menuntun justru berubah menjadi ujian.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Makna ayat ini menegaskan bahwa niat adalah fondasi, bukan sekadar pembuka amal. Dalam perjalanan makrifat, niat bukan hanya menentukan sah atau tidaknya laku, tetapi juga menentukan ke mana ruh diarahkan. Niat yang bergeser—meski sedikit—akan melahirkan hijab yang halus namun berbahaya.

Niat yang lurus adalah niat untuk pulang kepada Allah, bukan untuk:

- mencari pengalaman ruhani,

- mengejar rasa-rasa batin,

- mengumpulkan maqām,

- atau membuktikan keistimewaan diri.

Adapun cara adalah wasilah, bukan tujuan. Ketika cara diperlakukan sebagai teknik, metode, atau alat pemaksa penyingkapan, maka cara itu sendiri berubah menjadi hijab. Sholawat, dzikir, tafakkur, dan mujahadah bukanlah alat untuk “melihat”, melainkan jalan untuk dilihat oleh rahmat Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama ini mudah.”

(HR. Bukhari)

Maknanya, jalan ruhani tidak dibangun di atas pemaksaan akal dan ambisi batin, melainkan di atas keselarasan fitrah. Cara yang benar selalu melahirkan adab, ketenangan, dan keseimbangan antara jasad, akal, dan ruh.

Sedangkan perjalanan adalah proses panjang yang menuntut konsistensi. Banyak pejalan tersesat bukan karena salah niat di awal, melainkan karena menikmati perjalanan sebagai tujuan. Ketika ilham, rasa, atau petunjuk batin mulai dijadikan pegangan utama, ruh perlahan berhenti berjalan dan mulai “bercerita” kepada akal untuk dinikmati, bukan untuk diarahkan kembali kepada Allah.

Allah berfirman:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala perjalanan).”

(QS. An-Najm [53]: 42)

Ayat ini adalah penutup semua perjalanan ruhani: bukan rasa, bukan cahaya, bukan penyingkapan yang menjadi akhir, melainkan Allah semata. Segala sesuatu selain Dia hanyalah penunjuk jalan, bukan tempat berhenti.

Dengan meluruskan niat, menjaga cara tetap sebagai wasilah, dan menjalani perjalanan tanpa melekat pada pengalaman, seorang salik akan terhindar dari:

  • syirik halus dalam niat,
  • ketergantungan otoritas,
  • dogma tanpa dalil,
  • kelumpuhan mujahadah,
  • serta kecelakaan akal dalam cahaya (jadzab).

Penutup Bab V

Memahami hambatan-hambatan ini adalah langkah awal meruntuhkan hijab-hijab dalam diri. Makrifat memerlukan:

Kejujuran niat

Kemandirian jiwa

Kesehatan akal

Barangsiapa melampaui jeratan dogma dan ilusi batin, ia menemukan bahwa Tuhan yang dicari tidak pernah meninggalkannya sedetik pun.

Satu tetes air istiqomah yang melubangi batu ego, lebih dicintai Allah daripada air bah emosi spiritual yang meluap namun cepat surut.”

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *